Bosan Pokemon Go

Diluncurkan awal Juli 2016 lalu, Pokemon Go telah menjadi game yang sangat populer dan dimainkan banyak orang. Di Indonesia sendiri belum keluar versi resminya, namun kita dapat dengan mudah mendownload installernya di situs-situs tertentu, menginstalnya, dan memainkannya sesuka hati. Saya yakin di Indonesia sudah ada ribuan orang yang memainkannya.

Sekarang saya berada di level 15. Saya termasuk casual gamer, nggak mau jalan-jalan kesana kemari sepanjang hari hanya untuk menuruti nafsu main game, yang penting bisa ikut meramaikan. Saya tidak iri melihat teman-teman sudah level 20-an ke atas, bahkan 30 ke atas. Saya juga enggan menggunakan Lucky Egg. Mungkin nanti baru digunakan kalau benar-benar perlu.

O ya, entah mengapa, saya mulai merasa bosan dengan permainan ini. Ada 3 hal yang membuat saya bosan yaitu : keharusan mengunjungi Pokestop, warna Gym yang sering berubah, dan larangan dari pemerintah.

1. Keharusan mengunjungi Pokestop

bosan-pokemon-go-1Setiap game pasti membutuhkan sumber daya. Apa saja sumber daya yang dibutuhkan dalam Pokemon Go? Banyak. Ada Potion, Super Potion, Hyper Potion, Revive, Poke Ball, Great Ball, Ultra Ball, dan Razz Berry. Kesemuanya itu bisa kita dapatkan secara cuma-cuma alias gratis di Pokestop, sebuah tempat berwarna biru yang bisa kita temukan di peta Pokemon Go. Nah yang bikin malesnya adalah, kita harus selalu berada dekat dengan Pokestop untuk mendapatkan berbagai macam sumber daya di atas. Beruntunglah para gamer yang di dekat rumah/tempat tinggalnya terdapat minimal satu Pokestop. Lebih banyak, lebih baik. Bagaimana nasib gamer yang di sekitar tempat tinggalnya tidak ada satu pun Pokestop? Uninstall aja deh gamenya, hehehe. :mrgreen:

Saya lihat banyak sekali Pokestop yang lokasinya berada di tempat ibadah seperti masjid atau gereja. Ini bagus, karena kita bisa berlama-lama di tempat itu tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun dan mengambil sumber daya sebanyak yang kita suka. Lain halnya kalau Pokestop tersebut adalah warung/tempat makan. Berapa banyak uang yang harus kita keluarkan hanya untuk mampir di situ? Walaupun cuma segelas kopi, tetap saja keluar uang, bukan?

Ada juga Pokestop yang berlokasi di gedung/kantor pemerintahan. Kita harus waspada dan ekstra hati-hati mendekatinya. Jangan sampai diusir seperti warga Australia yang berbondong-bondong memasuki kantor kepolisian, atau ditangkap seperti seorang WNA Prancis yang nyelonong masuk markas TNI.

2. Warna Gym yang sering berubah

bosan-pokemon-go-2Tidak ada Gym yang benar-benar permanen mempunyai satu warna. Jika sekarang warnanya merah, mungkin 5 menit kemudian berubah menjadi biru, lalu 5 menit setelahnya berubah lagi menjadi kuning.

Jika musuh yang menempati Gym punya CP yang tinggi, kita akan malas melawan mereka. Apalagi kalau Pokemon kita CP-nya pas-pasan. Melawannya hanya akan menghabiskan Revive dan Potion.

Meninggalkan Pokemon di Gym juga berisiko, kita tidak bisa melakukan Power Up atau Evolve Pokemon tersebut, dan setelah ada orang lain yang mengalahkannya, kita akan mendapatkan kembali Pokemon tersebut namun dengan HP yang tinggal 1. Lagi-lagi kita butuh Potion untuk menyembuhkannya.

3. Larangan dari pemerintah

Ketika muncul sebuah game yang mengasyikkan dan dimainkan oleh banyak orang sehingga membuat beberapa orang celaka karena kurang hati-hati, apakah yang akan dilakukan oleh pemerintah? Yak, benar. MELARANG.

Pemerintah kita itu semakin lama semakin membosankan. Ini itu dilarang, apa-apa semakin mahal, rakyat dibiarkan kelaparan, berpakaian seadanya, dan disuguhi tontonan yang amat sangat tidak berkualitas. Menyebalkan, seolah-olah pemerintah hendak membunuh rakyatnya pelan-pelan sehingga negara ini bisa dikuasai oleh mereka, keluarganya, dan teman-temannya. Demikian juga dengan Pokemon Go. Game ini dituduh sebagai game yang berbahaya karena bisa memata-matai segala aktivitas kita dan membocorkan rahasia negara (duh! Orang bodoh mana sih yang punya pikiran seperti itu?), kemudian muncul larangan-larangan bermain di tempat-tempat tertentu (padahal tinggal request aja ke pengembang gamenya supaya menghapus Pokestop atau Gym di tempat itu, kan beres), lalu ada RAZIA handphone anggota PNS, TNI, dan Polri, jika ketahuan ada yang bermain Pokemon Go maka akan diuninstall, disita HP-nya, bahkan dipecat orangnya. Saya kira ini sudah keterlaluan. Menghilangkan kesenangan dan mata pencaharian seseorang hanya gara-gara sebuah game.

Terhadap Pokemon Go ini seharusnya kita bisa bersikap bijaksana dan berpikiran terbuka. Game ini diciptakan untuk tujuan yang baik. Di saat game-game yang lain membuat gamer menjadi malas keluar rumah, Pokemon Go justru menuntut gamer untuk berjalan-jalan, mengenal dunia luar, dan bersosialisasi dengan gamer lainnya. Ini adalah kemajuan yang luar biasa dalam dunia game. Kita patut mendukung Pokemon Go selama para gamer tidak berbuat sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri atau menyusahkan orang lain.

Senyum Licik Sang Penghutang

BRAK!! Pintu rumah kontrakanku dibuka paksa. Aku dan istriku yang sedang berada di dapur, memasak sayur sop untuk sarapan, tersentak kaget. Dengan tergopoh-gopoh aku berjalan ke ruang tamu. Sarung yang kupakai membuat agak sulit berjalan karena kebesaran. Kulihat mas Edi dan istrinya, mbak Ratna, berdiri di pintu ruang tamu. Raut wajah keduanya menunjukkan ekspresi tidak senang.

“Oh, Mas Edi, Mbak Ratna. Silakan duduk dulu,”

Mereka duduk di kursi kayu panjang yang tersedia.

“Pince… Kamu harus menolong kami,” kata mbak Ratna.

“Tentu, tentu, Mbak. Apa yang bisa saya bantu?”

“Dulu waktu ibuku masuk rumah sakit, biaya pengobatannya sangat mahal. Kami berdua tidak sanggup membayarnya,” mbak Ratna memulai ceritanya, “terpaksa kami pinjam uang ke rentenir. Tapi kemudian kami menyesal. Bunganya sangat tinggi. Tadi pagi si rentenir datang bersama tiga orang preman. Mereka minta agar besok hutangnya harus lunas. Kalau tidak, salah satu dari kami harus mati. Dia mengancam kami dengan pistol,”

“Astaga! Sampai segitunya?” aku kaget.

Istriku datang membawakan tiga gelas teh hangat.

“Tolonglah Pince, kamu harus meminjami kami uang. Kamu nggak mau melihat salah satu dari kami terbunuh, kan?” pinta mbak Ratna memelas.

“Baik, baik, Mbak, saya mengerti,” kataku. “Kalian mau meminjam berapa?”

“56 juta,” mas Edi yang sejak tadi diam saja, akhirnya buka suara.

“Li… Lima puluh enam juta???” aku terperanjat. Tenggorokanku seperti tercekik. Istriku juga tampak kaget. Untung gelas teh yang dibawanya tidak sampai tumpah.

“Mas, Mbak, mohon maaf sebelumnya. Bukannya kami tidak mau menolong kalian, tapi kami saat ini tidak punya uang sebanyak itu,” jelasku. “Kalian kan juga tahu, kami ini rumahnya masih ngontrak, dan…,”

“Kamu pasti punya!” seru mas Edi sambil mendengus.

Aku terdiam mematung. Nada bicaranya mas Edi barusan, nggak enak banget. Membuatku mulai emosi.

“Maaf Mas Edi! Saya tidak berbohong! Kalau saya bilang nggak punya, ya karena memang nggak punya! Dari mana kalian bisa membuat kesimpulan bahwa kami punya uang sebanyak itu? Kalian datang ke tempat yang salah! Seharusnya kalian datang ke bank, atau koperasi saja!”

“Sudahlah Mas, sudah,” mbak Ratna mencoba menenangkan suaminya. “Kalau memang Pince tidak mau meminjami kita, nggak usah dipaksa. Kita ke bank aja yuk? Kita kan sudah punya ini…,”

Mbak Ratna mengeluarkan sebuah sertifikat tanah dari dalam tasnya. Dia mengeluarkannya sedemikian rupa, seperti mau memamerkannya kepadaku. Di sertifikat itu tercantum nama seseorang. Namaku.

“Hei, tunggu!” teriakku. “Itu adalah sertifikat tanah kapling yang kubeli bulan kemarin! Kenapa sertifikat itu ada di tangan kalian?”

“Oh, ini?” mbak Ratna tersenyum licik. “Pengembangnya kan teman kami. Harga jual tanah ini 45 juta, dan kamu sanggup membayarnya secara cash. Bukankah itu berarti sebenarnya kamu punya uang? Mungkin kamu punya puluhan juta lagi di tabunganmu,”

“Tapi… Tapi, kalian tidak boleh…,”

“Kalau kami jaminkan sertifikat ini ke bank, kami akan dapat sekitar 100 juta,” kata mas Edi. “Kamu, kalau mau mendapatkan sertifikat ini kembali, harus membayar ke bank 100 juta berikut bunganya. Jadi, kamu mau pilih mana? Ngasih kami 56 juta cash sekarang, atau kami jaminkan saja sertifikat ini ke bank?”

“Bajingan,” gigi-gigiku bergemeretak menahan amarah.

“Kembalikan sertifikat suamiku!” tiba-tiba istriku bangkit dan berusaha merebut sertifikat dari tangan mbak Ratna. Dengan cepat mbak Ratna berkelit. Istriku mencakar. Mbak Ratna mendorong. Istriku jatuh tersungkur di lantai.

“Ayu!” aku menghampiri istriku yang meringis kesakitan.

“Berani-beraninya kau mencakarku,” kata mbak Ratna. “Kalau begitu, kami akan pergi ke bank sekarang juga, menjaminkan sertifikat ini,”

Mbak Ratna dan mas Edi berdiri bersamaan, lalu keluar dari rumah dengan senyum licik penuh kemenangan. Aku hanya bisa menatap mereka pergi dengan geram.

Kuambil HP, buka kontak, ketemu nama mas Wawan. Kutelepon kontak itu.

“Halo?” terdengar suara di seberang.

“Halo Mas Wawan, ini aku Pince,” kataku. “Sertifikat tanahku sudah jadi, ya? Tapi kenapa kok ada di tangan mas Edi?”

“O iya sudah, jadinya baru kemarin. Tadi kata mas Edi, kamu menyuruh dia untuk mengambil sertifikat itu. Di HP-nya mas Edi juga ada SMS dari kamu kok,” jawab mas Wawan.

Sialan! Batinku. Ini pasti permainan kotor mas Edi dan mbak Ratna. Mbak Ratna mengirim SMS ke mas Edi, lalu di HP-nya mas Edi nomornya disimpan pakai namaku.

“Tapi aku nggak pernah nyuruh dia, Mas! Aku juga nggak pernah SMS dia! Kenapa mas Wawan nggak langsung ngabari aku begitu sertifikatnya sudah jadi?” teriakku kesal.

“Wah, ya mau gimana lagi? Sudah terlanjur,” kata mas Wawan. “Gini aja, kamu minta sertifikat itu ke orangnya, terus kamu kasih duit berapa gitu, urusan beres. Sorry ya, teleponnya aku tutup dulu. Aku lagi nyetir di jalan nih,”

Tut… Tut… Tut… Telepon ditutup. Aku terduduk lemas di lantai.

“Mas… Tanah kita, Mas…,” istriku menangis sesenggukan.

Ternyata dunia zaman sekarang itu kerjanya seperti ini. Hasil kerjaku dengan susah payah selama 10 tahun, yang akhirnya bisa kugunakan untuk membeli tanah walau luasnya tak seberapa, tanah yang aku harapkan akan kubangun rumah kecil di atasnya untuk menampung keluargaku sehingga tidak perlu hidup di rumah kontrakan lagi, dalam sekejap lenyap sudah di tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Untuk menebus tanah itu, aku harus menyiapkan uang lagi, 100 juta ditambah bunganya. Duh Gusti, dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Berapa puluh tahun lagi aku harus bekerja agar sertifikat itu kembali ke tanganku?

Mengapa dunia sangat tidak adil kepadaku? Mengapa dunia tidak pernah adil kepada orang-orang jujur?

Titik-titik air mulai berjatuhan dari mataku. Kupeluk erat istriku. Kami menangis bersama.

Membakar Kebahagiaanku

Kakakku yang cantik, mengapa kau begitu percaya pada omongan dukun itu?

Ketika bapakku sakit, suka ngomel-ngomel, suka marah-marah sendiri, bahkan mengamuk, menghabisi nyawa semua barang-barang elektronik di rumah sebelum datang masa rusaknya, kamu malah mengundang dukun ke rumah. Setelah “memeriksa” bapakku, ia langsung menunjuk ke arah lemari kaca besar yang di dalamnya tersimpan rapi komik-komik milikku yang susah payah kukoleksi sejak SMA.

“Ini harus dibakar,” kata si dukun.

WHAT?!

“Bagaimana kalau dijual atau diloakkan saja? Atau, diberikan ke orang lain?”

“Tidak boleh! Harus dibakar karena ini adalah sarang makhluk halus,”

SHIT!

Jiwaku seakan mau keluar dari tubuhku saking sedihnya. Kakak perempuanku yang cantik dan ibuku yang selama ini sabar mengurusi bapakku yang sakit, tiba-tiba saja jadi aktif membujukku supaya mau membakar komik-komik kesayanganku. Ibu bahkan memarahiku.

Oh tidak! Aku mau menjerit. Apa salah komik-komikku sehingga mereka harus dibakar? Mereka cuma benda mati. Mereka hadir di hidupku untuk memberiku senyuman, memberiku tawa, memberiku semangat untuk terus menjalani kehidupan yang brengsek bersama orang-orang goblok. Komik-komikku lah yang tetap setia memberiku keceriaan dan kebahagiaan setiap kali aku membukanya dan menikmati ceritanya. Mereka bukan sarang makhluk halus! Tidak mungkin mereka sarang makhluk halus!

Oh, ibuku! Kakakku! Mengapa kalian begitu percaya pada omongan dukun itu? Bukankah kalian tahu, percaya bahwa benda-benda mati bisa mendatangkan musibah atau penyakit, adalah perbuatan SYIRIK! Kita hanya boleh takut kepada ALLAH! Kita harus meminta perlindungan hanya kepada ALLAH! Tetapi caranya harus benar! Bukan dengan membakar barang-barang milikku! Bukan dengan mempercayai omongan DUKUN! Sholat kalian selama 40 hari sudah dihanguskan gara-gara dukun itu!

“Kamu tidak kasihan kepada ibumu?”

DEG! Pertanyaan itu langsung menembus jantungku. Kutatap wajah ibu. Guratan-guratan, kisutan-kisutan di wajahnya karena dimakan usia, rambutnya yang telah memutih semua. Aku tidak tega melihatnya. Kulit-kulit yang menghitam, tanda-tanda kelelahan karena mengurusi bapakku yang sakit. Aku tidak ingin melawan ibuku. Aku tidak ingin durhaka. Tetapi ibu telah mempercayai orang yang salah. Aku pernah membaca bahwa kita harus selalu mematuhi orang tua kita, KECUALI jika mereka memerintahkan kepada perbuatan SYIRIK. Lalu aku harus bagaimana?

Malam itu… Malam terakhir sebelum semua komikku dibakar. Aku bermimpi, semua tokoh utama dari setiap judul komik berkumpul di hadapanku.

“Aku harus membakar kalian,” kataku.

Mereka saling berpandangan. Beberapa berbisik-bisik.

“Tidak apa-apa! Bakar saja kami,” Moyuru Hono dari Comic Bomber berkata dengan penuh semangat.

“Ya! Tidak usah ragu-ragu,” Ikki dari Air Gear menyahut.

“Kalau ini demi kebaikanmu,” Kamen Rider ZX menepuk dadanya, “aku bersedia!”

“Aku sedih. Aku yang paling lama mengenal Mas Pince dibandingkan kalian semua,” Kazuya Takasugi dari Our Field of Dreams berkata pada yang lain, “tetapi kalau harus mengorbankan diri demi Mas Pince, maka akulah yang akan maju paling depan!”

“Ya!” kata Son Goku dan Sun Go Kong bersamaan.

“Ya!” kata Keima Katsuragi.

“Ya!” “Ya!” “Ya!” Yugi Mutou, Tsubasa Ozora, Daisuke Motomiya, Kouya Marino, Gekko, dan yang lain-lainnya, semua mengangkat tangan tanda setuju.

Aku menangis terharu.

Besoknya, aku membakar SEMUA komik-komik itu. Karena tidak sanggup melakukannya sendiri, aku minta bantuan tetangga. Aku membakarnya tanpa sepengetahuan ibu dan kakakku. 370 buah komik hangus sudah.

Tiba-tiba saja bapakku masuk rumah sakit. Aku langsung menyusul ke RS.

“Bapak sakit apa?” tanyaku kepada ibu.

“Sakit jantung,” kata ibu lemas, “padahal selama ini bapak tidak pernah punya riwayat sakit jantung,”

“Sudah lihat kan, Dik?” kakakku berkata dengan tegas, “penyakit bapak bertambah parah. Sebaiknya kamu segera membakar komik-komikmu supaya bapak cepat sem…,”

“AKU SUDAH MEMBAKAR SEMUANYA!” teriakku. “SUDAH HANGUS JADI ABU! TAPI BAPAK MALAH MASUK RUMAH SAKIT! INI BAGAIMANA? YANG SALAH SIAPA?”

Kakakku terkejut. Ia mengambil HP, menelepon seseorang, lalu berbicara selama beberapa menit.

“Dik,” katanya padaku setelah menelepon, “kamu masih menyimpan barang-barang yang lain, nggak? Yang sekiranya bisa jadi tempat makhluk halus, seperti patung, lukisan, atau boneka-boneka karakter? Kalau ada, tolong segera dibakar ya. Ini demi kesembuhan bapak,”

HA??!?!?!?!?!?!

JANGKRIK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Aku pergi meninggalkan rumah sakit dengan kesedihan dan amarah yang meluap-luap.

Aku sedih karena bapakku sakit, tapi lebih sedih lagi karena keluargaku lebih mempercayai dukun ketimbang berusaha menjaga perasaanku sebagai anggota terkecil dari keluarga ini.

Aku marah karena komikku dibakar, tapi lebih marah lagi karena setelah komikku dibakar ternyata masalahnya tidak terselesaikan. Aku rugi besar. Kakakku meminta barang-barangku yang lain juga dibakar. Mengapa harus selalu barang-barangku? Jika semua barangku dibakar, aku harus bagaimana menjalani hidup? Luntang-lantung di jalanan sambil telanjang karena tidak punya baju?

Kakak, introspeksi dirilah. Kembalilah kepada ALLAH dengan sebenar-benarnya. Tinggalkan dukun itu. Sesungguhnya ALLAH maha mengetahui segala yang ghaib dan ALLAH melindungi kita dari keburukan segala yang ghaib. Tolong jagalah perasaan adikmu ini. Jangan hilangkan semua yang jadi sumber kebahagiaanku. Adikmu ini hidupnya sudah susah, jangan ditambah jadi lebih susah lagi.

Aku mohon…